Senin, 22 November 2010

Museum Keraton Sumenep

Museum ini terletak di Jl.Dr. Sutomo, No.6, Sumenep kode pos 69416, Jawa Timur. Museum ini termasuk museum umum yang di selenggarakan oleh pemerintah kabupaten. Awalnya bangunan museum ini berfungsi sebagai Kantor Raja, sekitar tahun 1762, namun mulai difungsikan sebagai museum sejak 9 Maret 1965. Bangunannya dibuat di atas lahan seluas 8.500 m2 dengan satu lantai saja dengan luas bangunan keseluruhan mencapai 2.000 m2. Dasar pendirian museum adalah Kepres RI No. 71 Tahun 1964, Penetapan Presiden RI No. 16 Tahun 1959, Kep. Bupati KDH No. 0242/D/a/IV-65, nomor akte notaris Kep. Bupati KDH No. 0212/D/a/IV-65. Status kepemilikan tanahnya masih hak pakai/sewa. Untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap bisa langsung telepon ke (0328) 667148 atau melalui faksimili dengan nomor (0328) 672617. Selain itu informasi tentang museum keraton juga bisa diakses melalui internet dengan alamat web site www.disbudparpora.sumenep.go.id, atau bisa juga menggunakan surat elektronik ke alamat kadisparta@sumenep.go.id. Museum ini memiliki 480 koleksi yang digolongkan dalam beberapa jenis.

Beberapa Koleksi :
Arkeologika
Keramogika
Numismatika dan Heraloika
Filologika
Teknologika
Etnografika
Geologika
Biologika
Historika
Seni Rupa
Keraton Kerajaan
Foto Raja Sumenep
Al Qur/’an Besar

Fasilitas Publik :
Ruang Pameran Tetap
Tempat penjualan tiket
Parkir
Toilet
Pos jaga
Penunjuk arah (signage)
Sarana ibadah

Fasilitas Museum :
Ruang penyimpanan Koleksi
Ruang administrasi (kantor)
Waktu Buka :
Hari Senin : Pukul 07.00 s.d 17.00

Pawai Musik Tong-Tong Se Madura

SUMENEP : Satu malam (17/10) pukul 19.00 wib, seluruh anggota Polres Sumenep dan Polsek jajaran Polres Sumenep berpartisipasi mengamankan kegiatan pawai keliling musik tong – tong. Kegiatan ini dalam rangka memperingati hari ulang tahun kabupaten Sumenep. Musik tong – tong merupakan musik tradisional rakyat Madura yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi tambah meriah dan semarak. Peserta kurang lebih 27 dari berbagai kabupaten, dari kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep sendiri.
 Pelaksanaan lomba musik tong – tong di kabupaten Sumenep  (foto: Polres Sumenep/Ident/Cipto)
Start musik tong tong berada di stadion A. Yani Kab. Sumenep yang dibuka oleh bupati Sumenep bapak KH. Ramdhan Siraj. Masyarakat dari segala penjuru memadati baik yang ada di start sampai finish di depan Masjid agung vKab. Sumenep. Sepanjang jalan yang dilewati penuh dengan masyarakat sehingga mengakibatkan kemacetan arus lalulintas. Untuk kelancaran jalannya kegiatan musik tong tong ini, petugas bekerja kerja keras unutk menutup dan mengalihkan jalan bagi para pengendara yang akan melewati jalur tersebut.
 Kesiapan para peserta dalam lomba musik tong – tong  di GOR A. Yani Sumenep. (foto: Polres Sumenep/Reskrim/Yoyok)
Sehari sebelum pelaksanaan pawai keliling misik tong – tong ini di start sudah banyak para peserta. Mereka mulai menghias peralatan musik tong – tong agar lebih semarak dan indah. Masyarakatpun dapat leluasa melihat awal perakitan musik tong tong sampai dengan selesai. Kegiatan musik tong tong ini selalu rutin dilaksanakan tiap tahun dalam rangka memperingati HUT Kab. Sumenep.
 
Para peserta lomba musik tong – tong sampai di finis depan Masjid Agung Sumenep jalan Trunojoyo Sumenep. (foto: Polres Sumenep/Reskrim/Yoyok)
Peserta nomor pertama di buka oleh bapak Bupati Sumenep sekira pukul 08.00 wib, yang kemudian disusul oleh para peserta lainnya. Para peserta dari start sampai finish mengumandangkan lagu – lagu madura dengan disertai tari – tarian beraneka ragam. Sehingga di dalam perjalanan musik tong tong ini memakan kurang lebih 5 jam dari star sampai finish yang berjarak kurang lebih 2 km. Meskipun menunggu lama, masyarakat yang di finish tetap sabar menanti kedatangan musik tong tong. Mereka ada yang tidur – tiduran dipinggir jalan dan ada yang memanfaatkan untuk bersantai di taman adipura Sumenep bersama anak keluarga mereka. Kegiatan ini berakhir sampai dengan pukul 02.00 wib dini hari. ***Polres Sumenep/Reskrim/Yoyok

Tempat Bersejarah di Supenep

Dari sekian banyak tempat sejarah dan wisata di Madura, perlu anda ketahui bahwa kota sumenep mempunyai banyak tempat-tempat bersejarah yang menjadi acuan tempat-tempat bersejarah untuk Madura, yang mayoritas santri. Diantaranya adalah :
tentang tempat bersejarah di Sumenep
tentang tempat bersejarah di Sumenep

1. SISA TEMBOK PAGAR KRATON

Pada masa kepemimpinan Bupati H.R. SOEMAR’OM ± tahun 1976, telah terjadi perubahan yang fundamental di lingkungan Kraton Sumenep, hal ini mengakibatkan dilakukannya pembongkaran pagar tembok belakang kraton yang didirikan oleh Raja Panembahan Sumolo tahun 1762 dengan panjang ± 200 meter. Adapun sisa yang tertinggal ± 4 meter dijadikan bukti monumental sejarah Kerajaan Kraton Sumenep di masa lalu.

2. KRATON SUMENEP

Dalam kawasan kraton Sumenep terdapat 3 bangunan utama yaitu :
a. Kraton Tirtonegoro;
Bangunan ini merupakan Istana kerajaan pada saat Sumenep dipimpin oleh Raja R. Tumenggung Tirtonegoro (Bendoro Moh. Saod) yang memerintah pada tahun 1750 sampai dengan tahun 1762. Pada awal pemerintahannya, di bangunan ini pernah terjadi reaksi perebutan kekuasaan akibat kekecewaan dari Patih Purwonegoro (Saudara mesan Ratu Tirtonegoro), karena dirinya merasa lebih pantas mendampingi raja Tirtonegoro menjadi raja Sumenep.
b. Kraton Panembahan Sumolo;
c. Kantor Koneng;
Dari arti kata koneng (rata = bahasa belanda) telah menunjukkan bangunan tersebut adalah Kantor Raja. Bangunan ini dipakai sebagai tempat kerja Raja Sultan Abdurrahman Pakunataningrat pertama selama masa pemerintahannya dari tahun 1811 s.d. 1854 M.

3. TAMAN SARE

Taman Sare Pemandian Putri-Putri Raja (Taman Sare) merupakan tempat bermainnya putri-putri raja sambil melepaskan kelelahan dengan bermain-main. Konon diceritakan, bahwa airnya dapat dijadikan obat dan membawa berkah.

4. WAKAF BENDORO MOH. SAOD / RADEN TUMENGGUNG TIRTONEGORO

Pada masa pemerintahan Bendoro Moh. Saod Raden Tumenggung Tirtonegoro dibangunlah tempat ibadah (Wakaf/Langgar) yang terletak di kawasan Kraton Sumenep. Dalarn penyelenggaraan pengajiannya wakaf ini dipimpin K. Abu Naim dan berfungsi selain tempat ibadah juga sebagai pusat penyiaran agama Islam saat itu.

5. MASJID AGUNG SUMENEP

Kabupaten Sumenep
Kabupaten Sumenep
Perkembangan Islam di Sumenep cukup pesat sehingga pada tahun 1763 M dibangunlah Masjid Agung Sumenep oleh Raja Panembahan Sumolo. Dari sejak berdirinya sampai sekarang, Masjid Agung tetap menjadi anutan dalam pengembangan syiar Islam di Kabupaten Sumenep. Di antara Masjid Agung dengan Kraton terdapat makna filosofis dengan pusatnya alon-­alon Kota. Alon-alon yang menghadap ke Barat (Masjid), melambangkan Hablum Minallah, dan alon-alon yang menghadap ke Timur (Kraton) melambangkan Hablum Minannas. Dengan demikian, jalinan hubungan yang harmonis antara Ulama dan Umaro’ sudah tercipta sejak Pemerintahan masa lalu.

6. ASTA TINGGI

Asta Tinggi disebut juga Asta Raje (Mad) yang bermakna asta/makam para Pangradje (pembesar kerajaan) yang merupakan asta/makam para raja clan anak keturunan beserta kerabat‑kerabatnya dibangun sekitar tahun 1750M.
Konon memuat cerita, bahwa kawasan makam asta tinggi pernah dilakukan pengeboman jarak jauh (dari atas kapal laut di Kalianget) oleh tentara Inggris karena mengira bahwa bangunan tersebut adalah istana kerajaan. Namun demikian, pengeboman tersebut tidak sampai menghancurkan asta tinggi karena jatuh di luar kawasan.

7. Pilar / Pintu Masuk Kraton Bangselok

Diceritakan bahwa kawasan Jalan Widuri Bangselok terdapat bangunan pintu masuk ke Keraton Bangselok yang dulunya ditempati Pangeran Pekalongan (menantu Sultan Abdurrahman). Konon waktu itu pintu masuk menuju ke keraton Sumenep terdapat di sebelah selatannya. (± 200 Meter), sehingga tamu yang akan ke keraton tertebih dahulu harus melalui pemeriksaan. Adapun kedudukan Pangeran Pekalongan adalah sebagai Panglima Perang pada zaman pemerintahan Sultan Abdurrahman